So(k) Bijak - Bahas Guru

int person1: eh, lu habis ini ada niat jadi guru? 

int person2: ga ah, guru gajinya kecil. 


Sedikit pembahasan tentang "Guru"


Suatu saat, saya pernah mendengar atau merasakan percakapan diatas. 

Kemuliaan "Guru" terletak pada gajinya? 


Memang, gaji guru di Indonesia itu masih bisa tergolong kecil, dan banyak orang yang mempertimbangkan hal tersebut ketika ingin menjadi guru. Tetapi memang tidak bisa disalahkan, kalau orang-orang berpikiran seperti itu. 


Jurusan saya Teknik Informatika, yang digadang-gadang nantinya akan menjadi seorang programmer, developer, data science, yang akan memiliki gaji yang sangat besar (affh iyh). Rata-rata alasan orang-orang yang memilih jurusan ini ketika kuliah, apakah ini lebih mulia dari guru? 


Jurusan Hukum yang nantinya berpotensi akan berkecimpung di dunia politik, dan akan memiliki jabatan, sehingga mendapatkan gaji yang sangat banyak, apakah ini lebih mulia dari guru? 


Bahkan, kedokteran yang nantinya akan bekerja di dalam dunia kesehatan dan juga menghasilkan gaji yang besar, apakah ini lebih mulia dari guru? 


Oke, kita seorang ahli IT. 

Oke, kita seorang lawyer. 

Oke, kita seorang dokter. 

Oke, kita seorang angkatan militer. 


Tapi siapa yang mencetak itu semua? 


GURU


INGAT!! 


Kalau bukan guru yang mengajarkan kita menulis, jangan harap kita bisa mencapai keinginan kita


Kalau bukan guru yang mengajarkan kita membaca, jangan harap kita akan menjadi orang sukses. 


Kalau bukan guru yang mengajarkan kita berhitung, kita bahkan tidak tau seberapa besar gaji yang kita ukur itu. 


Mulianya atau tingginya derajat seorang guru, itu tidak dilihat dari seberapa besar gajinya. 

Tidak ada profesi yang lebih mulia daripada guru (argumen sendiri). 


Karena saya yang sok tau dalam membedakan antara akhirat dan dunia

Makanya, saya memberikan kategori pada profesi guru (naudzubillah). 


Tapi ternyata


Semua guru itu mulia (selama masih beriman), terlepas dari apa yang beliau ajarkan. 


Baik yang beliau ajarkan itu masalah dunia atau yang beliau ajarkan itu tentang akhirat. 


Semua guru itu mulia, mungkin kita pernah berfikir apakah guru yang mengajarkan masalah dunia itu mulia? Seperi MTK, Kimia, Ekonomi, Biologi, Fisika, Seni, dll. 


Apa gunanya MTK untuk akhirat? 

Apa hubungan Kimia dengan agama? 

Apakah ilmu Fisika itu bisa berpengaruh terhadap akhlak kita? 


Semua guru itu mulia, mungkin kita pernah berfikir bahwa yang kita pelajari dengan susah payah itu akhirnya sia-sia dan tidak bermanfaat untuk akhirat dan agama kita, dan pernyataan seperti itu mungkin pernah dilontarkan oleh orang-orang yang paham agama, serta pasti pernah dilontarkan oleh orang-orang yang merasa dirinya sok paham agama (gwej) naudzubillah


Seberapa hebat kita, sehingga pernyataan seperti itu sempat keluar di benak kita

Seberapa banyak ilmu kita, sehingga pemikiran seperti itu sempat muncul di pikiran

Atau seberapa taat kita, sehingga bisa kita katakan kalau menuntut "ilmu tersebut" sia-sia


Algoritma, Aljabar, Trigonometri bukan ditemukan oleh seorang Yahudi

Bapak Kimia Modern bukanlah seorang Kafir

Kitab Qanun fith Thib itu tidak dikarang oleh seorang yang tidak beriman kepada Allah


Semua hal di atas, merupakan temuan atau julukan ilmuwan-ilmuwan Islam yang taat dan zuhud


Al-Khawarizmi, seorang ilmuwan yang taat dan faham akan ilmu agama saja, masih berusaha untuk mencurahkan pikirannya pada ilmu matematika dan akhirnya menemukan teori dan konsep Aljabar, Algoritma dan Trigonometri. Kalaulah memang Matematika itu tidak ada hubungannya dengan akhirat dan agama, tentu beliau tidak perlu bersusah payah untuk memikirkan hal yang serumit itu. Sehingga akhirnya, temuannya itu dapat memudahkan kita pada saat sekarang ini. 


Jabir bin Hayyan, seorang kimiawan yang hidup pada abad ke 7. Beliau yang pertama kali menemukan atom dan isotop pada besi saat membaca surah al-Hadid. Jadi, beliau itu tidak hanya mengerjakan yang "akhirat" saja, melainkan dengan mengerjakan yang "akhirat" tersebutlah beliau bisa menemukan trobosan baru terhadap ilmu "dunia". Setelah beliau membaca surah al-Hadid, tidak mungkin hatinya tergerak untuk meneliti besi tersebut kecuali ada hubungannya dengan masalah-masalah agama. 


Kitab Qanun fii at-Thib, kitab yang bahkan menjadi salah satu kiblat pada bidang kesehatan. Ya, kitab ini dikarang oleh Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā. Akibat dari kitab yang dikarangnya inilah, beliau dijuluki sebagai "Bapak Pengobatan Modern". Memang, kesehatan mungkin sangat berhubungan dengan agama. Tetapi, si pengarang Kitab Qanun fii at-Thib ini, yaitu Ibnu Sina yang lahir pada 980 masehi ini, beliau saat masa kecilnya sudah membaca buku-buku filsuf Aristoteles dan Plato. Dua orang tersebut merupakan filsuf yang berkebangsaan Yunani yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama Islam termasuk karya-karyanya. Namun, kenapa Ibnu Sina tertarik dengan buku filsafat karangan dua orang tersebut. Pasti ada sebuah hikmah yang dapat diambilnya yang dimana nantinya hasil dari ia membaca buku-buku tersebut menjadi awal dikarangnya kitab Qanun fii at-Thib itu. 


Tapi perlu diingat beliau-beliau diatas itu terlebih dahulu mendekati dirinya pada Allah, barulah kemudian hal-hal dunia mengejar mereka. Rumusnya kejar akhirat dahulu, baru dunia mengikuti. 



Intinya, meskipun "ilmu" yang dipelajari itu, sepengetahuan kita tidak ada hubungannya dengan agama atau akhirat. Yang sebagian orang berasumsi bahwa hal itu merupakan perbuatan sia-sia, coba pikirkan lagi, tiga orang yang saya bahas sebelumnya itu merupakan orang yang zuhud dan taat agama. Tetapi, mengapa mereka bersusah payah dalam mengembangkan ilmu yang kita asumsikan "Sia-sia" itu? 


Toh, Sabda Rasul tentang wajibnya seorang muslim menuntut ilmu, tidak dikhususkan untuk ilmu agama.


Toh, peribahasanya "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China", China kan bukan agama yang mayoritas Islam. 


Selagi kita masih beriman dan melakukan amal sholeh, maka kita tidak akan merugi. 


"Sungguh, manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh."


Kembali lagi, semua guru itu mulia (sangat mulia), terlepas dari ilmu yang beliau ajarkan

Selagi bermanfaat, maka itu termasuk kriteria amal jariyah. Itulah hal yang membuat guru seorang guru itu mulia. 


Kesimpulan, karena rumus untuk mendapatkan dunia itu sebenarnya mendekatkan diri kepada Allah dan mengejar akhirat. Dan cara supaya bisa dekat kepada Allah dengan baik, yaitu dengan menuntut ilmu agama, agar semua yang kita lakukan itu sesuai dan mendapatkan ridha Allah Swt. jadi, kesimpulannya tarik sendiri.


Dan... 


Selamat Hari Guru


Dah,

Semoga ketemu ditulisan berikutnya

Semoga:))

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.